Tips Agar Pengajuan KPR Anda Disetujui

rumah kpr disetujui

Pembuka

Banyak calon konsumen properti yang pada saat proses pengajuan KPR, pengajuannya itu dapat diterima oleh pihak pemberi kredit, baik bank atau lembaga keuangan lainnya, namun tidak sedikit juga yang pengajuannya ditolak, nah jika ditolak rasanya calon konsumen tersebut perlu membaca tips agar pengajuan KPR Anda diterima berikut ini sampai selesai.

Sebagai calon konsumen, sebut saja si Fulan, jika pengajuannya ditolak tentu perlu tahu juga apakah alasan ditolaknya pengajuan KPR oleh pihak pemberi kredit tersebut, seperti misal, apakah karena si Fulan pernah melakukan kredit macet dalam hidupnya, atau bisa juga profil penghasilannya tidak meyakinkan pihak pemberi kredit.

Nah, hal-hal tersebut, atau hal-hal lainnya yang berpotensi membuat gagalnya proses pengajuan KPR, tentu perlu diantisipasi atau dipersiapkan sebaik mungkin sebelum mengajukan KPR sebagaimana yang akan disampaikan dalam artikel ini.

Siapkan Dokumen

Sebelum melangkah jauh ke pokok pembahasan, tentu saja, jika kita ingin melakukan pengajuan KPR maka ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi terkait kelengkapan dokumen.

Dibawah ini terdapat beberapa catatan atau ketentuan yang biasanya ditetapkan oleh pihak pemberi kredit, dan hal tersebut harus dipenuhi oleh calon debitur.

Oiya, pihak developer atau bank, biasanya mengkategorisasi calon konsumennya atau calon debiturnya dalam tiga kelompok, apakah seorang wiraswastawan, pekerja kantoran atau karyawan, atau seorang profesional. Persyaratan yang dibutuhkan umumnya sama, hanya berbeda pada beberapa hal saja.

Baca juga: Mau Jual Properti? Jual Sendiri Atau Lewat Agen Properti

Persyaratan Dokumen untuk Wiraswasta

Jika Anda seorang wiraswastawan, maka beberapa persyaratan yang dibutuhkan atau diperlukan oleh pihak developer maupun pihak pemberi kredit.

  1. Mengisi aplikasi KPR (formulir isian dari pihak developer/bank) secara lengkap.
  2. Menyertakan fotokopi KTP pemohon (jika pemohon sudah menikah disertai KTP pasangan).
  3. Menyertakan surat nikah atau surat cerai.
  4. Menyertakan fotokopi Kartu Keluarga (KK).
  5. Surat Keterangan WNI (untuk WNI keturunan).
  6. Rekening tabungan minimum tiga bulan terakhir atau rekening koran.
  7. Bukti transaksi keuangan Anda dengan pelanggan (seperti bon atau faktur).
  8. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
  9. Daftar pemasok Anda jika usaha Anda bergerak di bidang perdagangan.
  10. Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) jika usaha Anda bergerak di bidang perdagangan.
  11. Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

Persyaratan atau dokumen yang perlu dilampirkan diatas bisa berbeda antara satu bank dengan bank yang lain, maupun lembaga keuangan lainnya. Daftar diatas hanya sebagai ilustrasi yang biasanya harus disiapkan oleh seorang calon debitur.

Persyaratan Dokumen untuk Pekerja atau Karyawan

Pekerja atau karyawan yang dimaksud disini seperti pekerja atau karyawan pada perusahaan swasta, maupun anggota TNI, anggota Polres, Pegawai Negeri Sipil.

  1. Mengisi aplikasi KPR (formulir isian dari pihak developer/bank) secara lengkap.
  2. Menyertakan fotokopi KTP pemohon (jika pemohon sudah menikah disertai KTP pasangan).
  3. Menyertakan surat nikah atau surat cerai.
  4. Menyertakan fotokopi Kartu Keluarga (KK).
  5. Surat Keterangan WNI (untuk WNI keturunan).
  6. Rekening tabungan minimum tiga bulan terakhir atau rekening koran.
  7. Bukti transaksi, slip gaji atau surat keterangan penghasilan (Take Home Pay).
  8. Surat keterangan dari tempat Anda bekerja dengan durasi minimal dua tahun bekerja.
  9. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

Persyaratan atau dokumen yang perlu dilampirkan diatas bisa berbeda antara satu bank dengan bank yang lain, maupun lembaga keuangan lainnya. Daftar diatas hanya sebagai ilustrasi yang biasanya harus disiapkan oleh seorang calon debitur.

Baca juga: Diburu Waktu, Minta Broker Properti Jual Apartemen Anda

Persyaratan Dokumen untuk Profesional

Sedangkan yang dimaksud dengan profesional atau praktisi yaitu profesi yang didasarkan atas keahlian personal, seperti profesi Dokter, atau profesi Pengacara.

Karena profesi tersebut cenderung tidak memiliki slip gaji, maka yang dibutuhkan sebagai bukti dalam proses pengajuan KPR diantaranya yaitu:

  1. Mengisi aplikasi KPR (formulir isian dari pihak developer/bank) secara lengkap.
  2. Menyertakan fotokopi KTP pemohon (jika pemohon sudah menikah disertai KTP pasangan).
  3. Menyertakan surat nikah atau surat cerai.
  4. Menyertakan fotokopi Kartu Keluarga (KK).
  5. Surat Keterangan WNI (untuk WNI keturunan).
  6. Rekening tabungan minimum tiga bulan terakhir atau rekening koran.
  7. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
  8. Bukti transaksi keuangan Anda dengan pelanggan atau klien Anda (seperti bon, kwitansi, faktur, rekening koran).
  9. Surat Izin Praktik.

Persyaratan atau dokumen yang perlu dilampirkan diatas bisa berbeda antara satu bank dengan bank yang lain, maupun lembaga keuangan lainnya. Daftar diatas hanya sebagai ilustrasi yang biasanya harus disiapkan oleh seorang calon debitur.

Perbaiki Postur Keuangan

tips agar kpr disetujui

Kita mulai masuk ke pokok pembahasan, yaitu melihat postur keuangan Anda seperti apa. Jika ternyata postur keuangan Anda sudah memenuhi kualifikasi, ya berarti selamat, Anda tinggal bersiap menunggu proses berjalan dimulai dari penyerahan dokumen, proses Analisa dokumen oleh pihak bank, dan lalu menunggu untuk melakukan wawancara.

Namun, jika ternyata, setelah membaca tiga poin dibawah ini, masih terdapat kekurangan, maka segeralah memperbaiki postur keuangan Anda. Anda rapihkan satu persatu, jika sudah ok, silahkan Anda memulai tahapan dari awal penyerahan dokumen.

Hal ini penting dilakukan, dan bahkan bisa dibilang merupakan bagian terpenting dari lolos atau tidaknya pengajuan yang kita lakukan.

Menjadi penting dan menentukan karena memang pihak pemberi kredit mendapatkan informasi sekaligus mempelajari profil kita hanya dari dokumen yang diserahkan. Namun meski demikian, seorang analis kredit bank dapat dengan cermat menganalisis pengajuan kita, apakah layak atau tidak mendapat kredit.

Tiga hal berikut menjadi bahan yang perlu dipersiapkan oleh seorang calon debitur agar proposal pengajuan KPR nya disetujui pihak bank.

Baca juga: Cara Konservasi Air Tanah Dari Air Hujan Dengan Sumur Resapan

Catatan Rekening Bank

Bila Anda seorang pekerja atau karyawan, bisa dipastikan bank akan meminta slip gaji sebagai bukti bahwa Anda memang memiliki penghasilan tetap setiap bulannya, termasuk berapa besarannya.

Dimungkinkan juga pihak bank akan meminta surat keterangan bila Anda memang seorang karyawan, dan dimungkinkan juga akan melakukan konfirmasi langsung ke tempat Anda bekerja, termasuk status karyawan dan di posisi apa Anda bekerja.

Selain itu, dimungkinkan juga pihak bank akan meminta Anda untuk melampirkan rekening koran atau rekening bank Anda dalam tiga bulan terakhir.

Jika gaji atau penghasilan Anda didapat melalui dalam bentuk transfer atau setoran dari bank tempat Anda bekerja ke rekening bank milik Anda, maka biasanya pihak pemberi kredit akan mencocokkan antara data slip gaji yang Anda sampaikan dengan jumlah gaji atau penghasilan yang masuk ke rekening Anda setiap bulannya.

Lalu, jika gaji atau penghasilan Anda bukan melalui transfer, alias terima tunai, maka Anda sebaiknya menyetorkannya terlebih dahulu ke rekening bank milik Anda sebelum Anda gunakan.

Perlu diupayakan agar catatan pada rekening bank Anda menunjukkan adanya pemasukan rutin paling tidak dalam rentang waktu minimum tiga sampai enam bulan terakhir penghasilan Anda.

Hal tersebut diatas agar pihak bank dapat meyakinkan dirinya, dengan maksud untuk mempelajari profil calon debitur, termasuk untuk membuktikan bahwa Anda memang memiliki penghasilan rutin, dan juga soal seberapa konsumtifnya seorang calon debitur.

Baca juga: Tips Membangun Rumah Minimalis dengan Budget Minim

Mengatur Proporsi Cicilan Utang

Pihak bank dapat menolak pengajuan KPR bila Anda sudah memiliki cicilan utang yang melebihi sepertiga dari penghasilan rutin bulanan Anda.

Penghasilan itu sendiri sejatinya bukan melulu yang berupa gaji, tapi juga bisa yang lainnya yang rutin Anda dapatkan setiap bulannya. Dalam istilah lain, hal ini disebut dengan Take Home Pay.

Nah, pihak bank tentu ingin agar dana nasabah yang dikelolanya berjalan dengan baik tanpa ada potensi kredit macet pasca kredit disetujui. Potensi kredit macet dapat dengan mudah mereka temukan bila Anda sudah memiliki utang lainnya dengan jumlah melebihi sepertiga penghasilan bulanan Anda.

Ilustrasinya, jika penghasilan perbulan Anda misalkan Rp 10 juta, lalu Anda memiliki utang, tagihan kartu kredit, dan sisa angsuran bulanan kendaraan yang mencapai Rp 3,8 juta, maka dengan postur keuangan tersebut, pihak bank melalui analis kreditnya akan lebih condong menolak pengajuan KPR Anda.

Namun bila penghasilan perbulan Anda misalkan Rp 6 juta, lalu Anda memiliki utang, tagihan kartu kredit, dan sisa angsuran bulanan kendaraan yang mencapai Rp 1,5 juta, maka dengan postur keuangan tersebut, pihak bank melalui analis kreditnya dimungkinkan untuk menyetujui pengajuan KPR Anda, sepanjang besaran cicilan properti yang Anda ambil di kisaran Rp 2 juta per bulan.   

Baca juga: Ingin Punya Properti di Usia Muda? Ini Caranya!

Selesaikan Utang Ditempat Lain

Jangan lupa, Anda juga harus melancarkan pembayaran utang di tempat lain, seperti utang kartu kredit (CC), kredit tanpa agunan (KTA), ataupun utang lain yang pencatatannya melibatkan pihak bank. Karena saat ini, terdapat instrumen BI Checking yang dapat menyisir terjadinya kemacetan pembayaran oleh nasabah.

Biasanya, pihak bank dapat menganalisa dan mempunyai cara tersendiri dalam memperkirakan kondisi keuangan Anda yang sebenarnya, salah satunya hanya dengan membaca pembayaran tagihan Anda.

Jika saat ini, misalnya secara kebetulan, Anda nyaris mengalami keterlambatan dalam pembayaran tagihan kartu kredit, apalagi jika memang uang untuk membayar tagihan tersebut sudah ready, maka sesegera mungkin untuk melakukan pembayaran, dan secara konsisten tidak melakukan tunggakan pembayaran.

Bukan apa-apa, ketika Anda sekali dua kali mengalami keterlambatan dalam membayar tagihan, mungkin pihak bank masih bisa maklum, namun jika sudah kesekian kalinya terlambat, bukan tidak mungkin pihak bank akan memberi catatan atas profil keuangan Anda.

Jika sudah begitu, maka perjuangan Anda untuk merealisasikan properti impian menjadi berpotensi akan gagal, karena memang pihak bank tentu tidak akan mengambil resiko terhadap nasabah yang pernah gagal bayar, meski itu di tempat lain yang mungkin saja jumlah tunggakannya sebenarnya kecil.

Namun terhadap hal yang demikian pihak bank tidak akan memberikan toleransi, demi agar mereka terhindar dari hal yang sama terulang kembali pada mereka, yang mungkin justru dalam jumlah tunggakan yang besar.

Baca juga: Peluang Usaha Jasa Desain Rumah Via Instagram

Penutup

Sebagai penutup, artikel ini bukan dimaksudkan agar Anda mengecoh pihak bank, sekali lagi bukan. Artikel ini justru memandu Anda memahami poin-poin yang dijadikan catatan bank dalam menilai calon debiturnya.

Apakah kelak, menurut pihak bank, si calon debitur mampu membayar angsuran bulanannya, atau jangan-jangan si calon debitur memiliki potensi kredit macet. Terhadap hal yang demikian, maka pihak bank akan sangat ketat dalam memberikan kredit.

Terpenting Anda memang memiliki kemampuan untuk membayar cicilan KPR, sambil tentunya, Anda mulai mengurangi gaya hidup konsumtif, menimalisir penggunaan kartu kredit demi terhindar dari potensi kredit macet yang tidak Anda sengaja, semisal terlewat karena lupa membayar.

Hal tersebut jika Anda memiliki gaya hidup konsumtif, namun jika tidak, tentu saja hal itu dapat meringankan langkah Anda dalam mendapatkan rumah idaman dambaan keluarga.

Semoga sukses dalam pengajuan KPR Anda dan Salam Properti.[ppc]

Sumber gambar: Blog UMB

Be Sociable, Share!

2 thoughts on “Tips Agar Pengajuan KPR Anda Disetujui”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.